Langsung ke konten utama

Membaca Jadwal Imunisasi Anak

 "Anak saya sudah usia 12 bulan tapi belum pernah vaksin Influenza, apakah masih bisa dok?" Tanya seorang ayah. 

"Oh bisa sekali pak, kalau vaksin Influenza yang penting sudah di atas 6 bulan." Terang saya.

"Saya kira yang di tabel itu artinya harus persis di usia 6 bulan dok." Sahut si ayah sambil mengangguk-angguk.

"Jadi divaksin Influenza nih pak anaknya?"

"Oh jadi dong, Bismillah supaya lebih sehat." Jawab si ayah yakin.


Membaca Jadwal Imunisasi Anak

Secara berkala IDAI mengeluarkan rekomendasi imunisasi anak, tercatat sejak tahun 2004 sudah ada tujuh kali perbaruan dari jadwal imunisasi tersebut. Orang tua/pengasuh yang kebetulan tidak berkecimpung di dunia kedokteran mungkin akan mengalami sedikit kebingungan dalam memahami jadwal, seperti yang dialami seorang bapak dalam percakapan di atas.

Bagi Anda yang sudah memiliki anak, cara mudah membaca jadwal ini adalah dengan melihat kolom usia yang sesuai dengan ananda. Misalkan ananda sudah berusia 20 bulan, maka cari usia yang sesuai/paling dekat dengan usia ananda, dalam hal ini berarti usia 18 bulan.

Membaca Kebutuhan Vaksin Sesuai Umur

Pada usia 20 bulan, seorang anak seharusnya sudah mendapatkan vaksin-vaksin yang ada di barisan di bawah usia 18 bulan, yaitu:

  1. Hepatitis B (dosis ke-5),
  2. Polio (dosis ke-4),
  3. DTP (dosis ke-4),
  4. Hib (dosis ke-4),
  5. MR,
  6. Influenza,
  7. PCV,
  8. JE,
  9. Varisela, dan
  10. Hepatitis A.
Sepuluh vaksin yang disebutkan di atas masih bisa disusulkan pemberiannya, seandainya anak belum pernah diberikan atau terlambat dari jadwal (misal anak baru mendapatkan vaksin DTP 2 kali saja). Sedangkan untuk vaksin BCG dan Rotavirus sudah tidak ada jadwalnya di usia ini (kolom berwarna putih), karena sudah tidak dianjurkan pemberiannya meski belum pernah diberikan atau dosisnya kurang.

Membaca Kolom Umur

Vaksin memiliki usia pemberian yang berbeda-beda. Misal vaksin Influenza tadi, usia pemberiannya dimulai pada 6 bulan dan jadwalnya berlanjut terus sampai usia 18 tahun (batas usia anak menurut undang-undang). Artinya vaksin ini bisa diberikan mulai dari usia 6 bulan 0 hari sampai usia 18 tahun. 

Bila kebetulan anak belum pernah diberikan vaksin Influenza di usia 6 bulan, tidak ada masalah memberikan vaksin ini di usia berapapun, sepanjang sudah berusia 6 bulan atau lebih.

Angka 2 pada kolom usia bulan berarti usia 2 bulan 0 hari sampai dengan 2 bulan 29 hari. Vaksin DTP1 disebut diberikan tepat waktu apabila disuntikkan pada usia antara 2 bulan 0 hari sampai 2 bulan 29 hari.
dr. Krisna Adhi, Sp. A
Ketua Bidang Litbang & IT Perdalin Kotapraja.
Co Founder di Klinik Vaksinasi Ar Rohmah,
Dokter Anak di RS Mitra Keluarga Slawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksin Rotavirus: Melengkapi Perlindungan Anak Terhadap Diare

"Loh memangnya ada vaksin untuk diare ya?" sahut seorang ibu keheranan, "anak saya masih bisa diberikan vaksinnya nggak?" lanjutnya lagi. Bagi kebanyakan orang, diare identik dengan lingkungan yang kotor, jorok, kumuh. Maka saat seorang anak terkena diare padahal sudah tinggal di rumah yang terjaga bersih, muncul rasa heran. Diare Rotavirus tidak hanya menjadi masalah di Indonesia saja, tapi juga di negara-negara maju lainnya. Karena alasan itulah dikembangkan vaksin Rotavirus. Vaksin Rotavirus pertama di dunia dirilis tahun 1998. Seorang anak dengan diare sedang ditangani petugas Waktu Pemberian Vaksin Rotavirus Vaksin Rotavirus diberikan mulai usia 8 pekan (2 bulan) . Dosis vaksin Rotavirus bervariasi di antara merk vaksin. Ada yang membutuhkan dua dosis dan tiga dosis.  Yang menjadi masalah, masa pemberian vaksin ini terbatas. Usia maksimal pemberian dosis pertama adalah 14 pekan, dan vaksinasi sudah harus selesai diberikan pada usia 24 atau 32 pekan, tergantung ...

Vaksin Polio: Demi Terwujudnya Eradikasi Polio

Apa Itu Poliomielitis? Definisi: Poliomielitis (Polio) adalah penyakit infeksi sangat menular disebabkan oleh Poliovirus . Penyakit ini utamanya menyerang balita, ditularkan oleh orang ke orang melalui rute fekal-oral. Virusnya akan berkembang biak di usus, kemudian dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan. Tanda dan Gejala: Sekitar 90% dari orang yang terinfeksi tidak bergejala atau mengalami gejala ringan, sehingga penyakit ini tidak dikenali. Pada sebagian orang mungkin muncul gejala demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kaku pada leher, dan nyeri pada tungkai. Seorang anak menderita kelumpuhan akibat Polio Pada sebagian kecil kasus, virus menyebabkan kelumpuhan, biasanya pada kaki dan kelumpuhannya bersifat permanen. Sekitar 5-10% penderita yang mengalami kelumpuhan akan terjadi kelumpuhan pada otot pernapasan yang bisa menyebabkan kematian . Komplikasi: Kecacatan permanen, meninggal dunia, sindrom Pascapolio. Penyakit Polio Tak Dapat Disembuhkan Hingga saat ini...

Sejarah Panjang Imunisasi di Indonesia

Sebagian vaksin yang digunakan pada saat ini sebetulnya sudah lama berada dan diberikan secara rutin di Indonesia. Misalnya saja vaksin BCG sudah dipakai di negara ini sejak tahun 1973, artinya sudah hampir 50 tahun lamanya. Belum lagi kalau kita melihat faktanya, bahwa vaksin BCG malah sudah mulai diberikan pertama kali pada tahun 1921 oleh  Benjamin Weill-Halle di rumah sakit Charite, Paris. Artinya vaksin BCG sudah digunakan manusia sejak lebih dari 1 abad! Maka dari itu sangatlah tidak tepat jika ada yang mengatakan vaksin yang diberikan kepada anak-anak kita merupakan proyek percobaan. Justru vaksin yang ada saat ini merupakan vaksin yang sudah teruji manfaatnya bahkan sejak puluhan tahun. Perkembangan Program Imunisasi di Indonesia Vaksin yang pertama kali diberikan di Indonesia adalah vaksin Variola (Cacar), yang pelaksanaannya dimulai pada tahun 1956. Ali Maow Maalin dari kota Merka, Somalia,  penderita Variola terakhir di muka bumi (1977) Dunia dinyatakan bebas dari ...