Langsung ke konten utama

Sakit Itu Mahal, Boros Itu Murah (Bagian 1)

 "Makasih dermawan yang telah membeli perhiasanku yang tiada bernilai ini, tapi bernilai untuk suamiku @indrabekti,"

Pekan ini dunia maya di Indonesia disemarakkan dengan kabar penggalangan dana oleh Aldila Jelita, menyusul dirawatnya sang suami, Indra Bekti karena mengalami perdarahan otak.

Ada banyak pro dan kontra yang menghiasi beranda media sosial. Dan masing-masing tentu mewakili sudut pandang yang dianggapnya paling benar.

Apapun itu, sebagai tenaga medis saya mencoba memberikan sudut pandang yang berbeda, bahwa sakit itu memang betul-betul mahal.

Kan Sudah Ada BPJS?

Sebagai praktisi vaksinasi anak, saya seringkali harus berhadapan dengan narasi "kalau sakit kan sudah ada BPJS dok?" Jadi kalaupun si anak jatuh sakit, nggak perlu lagi keluar biaya. Berbeda dengan vaksinasi yang memang faktanya tidak ditanggung BPJS alias harus bayar sendiri.


Jadi dari kacamata orang kebanyakan, peristiwa jatuh sakit merupakan bagian dari kejadian sehari-hari yang: (1) Wajar terjadi; (2) Bisa menimpa siapapun; (3) Bisa terjadi kapan saja; (4) Nggak ada yang bisa dilakukan untuk menghindarinya.

Apalagi tidak pernah ada jaminan, mereka yang sudah menjalani hidup sehat dan sudah divaksin lengkap tidak akan pernah jatuh sakit. Jadi untuk apa membuang uang untuk sesuatu yang tidak bisa menjanjikan?

Terlalu Murahnya Biaya Pengobatan

Saat menempuh pendidikan kedokteran, kami diajarkan mengenai bagaimana cara mendiagnosis penyakit, bagaimana tatalaksananya, hingga bagaimana cara mencegahnya terjadi kembali atau merehabilitasinya. Masalahnya tidak semua teori yang diajarkan tadi bisa diterapkan di tempat kami bekerja.

Misalnya pada kasus anak dengan demam dan batuk pilek. Idealnya kita melakukan pemeriksaan swab untuk melihat apa sih yang jadi penyebab sakit si anak? Persis seperti yang kita lakukan selama pandemi Covid ini, dilakukan swab untuk melihat apakah sakit yang diderita disebabkan Coronavirus.

Data hasil pemeriksaan kemudian digunakan untuk:

  1. Dasar dari pengobatan yang diberikan kepada si anak,
  2. Membantu menentukan lama sakit dan lama penyakit tersebut masih bisa menular kepada orang lain,
  3. Menjadi dasar dari rekomendasi pencegahan spesifik (misal vaksinasi) yang diperlukan,
  4. Sumber data primer penelitian, dan sebagainya.

Masalahnya, berapa banyak di antara kita yang pernah (atau mau) diperiksa sampai serepot itu? Kalaupun ada, biaya yang dikeluarkan jelas tidak akan murah, setidaknya dari standar yang kita miliki saat ini. Akankah keluarganya bersedia?

Penanganan yang Kurang Ideal

Sehingga sampai dengan tahun 2023 ini, kita tidak memiliki angka pasti, berapa banyak kasus Influenza anak di Indonesia? Berapa besar kasus Demam Tifoid dalam satu tahun? Silakan saja Anda cari, yang akan Anda temukan biasanya hanya perkiraan besaran kasus. Dengan kata lain, kita tidak tahu pasti berapa besar masalah yang dihadapi.

Ambil contoh penanganan anak yang demam dan batuk pilek tadi. Katakanlah anak itu dirawat di ruangan kelas 3 rumah sakit kelas D menggunakan BPJS. Biaya yang dibayarkan oleh BPJS berdasarkan INA CBG's tahun 2013 adalah sebesar Rp1.620.442,00.


Apabila swab dilakukan, biaya termurahnya sekitar Rp300.000,00 atau 18,75% dari keseluruhan pembiayaan pasien rawat inap. Sedangkan untuk rawat jalan di RS kelas D, mendapatkan jatah Rp185.000,00 per kali kedatangan termasuk pemeriksaan (laboratorium atau rontgen). Yang artinya RS justru harus merugi apabila semua yang demam dan batuk pilek dilakukan swab.

Penanganan yang Ideal Berbiaya Tinggi

Ada filosofi Jawa mengatakan "jer besuki mawa beya" yang artinya kurang lebih: Untuk bisa berhasil diperlukan pengorbanan. Maka penanganan pasien juga seharusnya seperti itu. Karena kegagalan dalam mengatasi pasien bisa berujung kepada tiga hal: Komplikasi, kecacatan, atau kematian.

Dan di sinilah permasalahan yang kurang disadari orang kebanyakan. Bahwa biaya yang ditanggung oleh BPJS tidaklah cukup guna memenuhi standar tertinggi yang seharusnya dikerjakan.

Pada tahun 2007, Dahlan Iskan menjalani operasi transplantasi hati di Tiongkok akibat kanker yang dideritanya. Transplantasi hati sendiri merupakan satu-satunya cara untuk bisa mengharapkan kesembuhan dari Kanker Hepatoselular. Masalahnya berapa banyak orang yang punya kesempatan seperti beliau? 

Sebab dalam kasus transplantasi hati yang pernah berlangsung di Indonesia sendiri, pembiayaan oleh BPJS masih terbatas, alias tidak ditanggung sepenuhnya. Padahal biaya operasinya pada tahun 2015 saja sudah mencapai Rp1,2 milyar.

Bersambung ke bagian 2.

dr. Krisna Adhi, Sp. A
Dokter Anak di RS Mitra Keluarga Slawi,
Ketua Bidang Litbang & IT Perdalin Kotapraja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksin Rotavirus: Melengkapi Perlindungan Anak Terhadap Diare

"Loh memangnya ada vaksin untuk diare ya?" sahut seorang ibu keheranan, "anak saya masih bisa diberikan vaksinnya nggak?" lanjutnya lagi. Bagi kebanyakan orang, diare identik dengan lingkungan yang kotor, jorok, kumuh. Maka saat seorang anak terkena diare padahal sudah tinggal di rumah yang terjaga bersih, muncul rasa heran. Diare Rotavirus tidak hanya menjadi masalah di Indonesia saja, tapi juga di negara-negara maju lainnya. Karena alasan itulah dikembangkan vaksin Rotavirus. Vaksin Rotavirus pertama di dunia dirilis tahun 1998. Seorang anak dengan diare sedang ditangani petugas Waktu Pemberian Vaksin Rotavirus Vaksin Rotavirus diberikan mulai usia 8 pekan (2 bulan) . Dosis vaksin Rotavirus bervariasi di antara merk vaksin. Ada yang membutuhkan dua dosis dan tiga dosis.  Yang menjadi masalah, masa pemberian vaksin ini terbatas. Usia maksimal pemberian dosis pertama adalah 14 pekan, dan vaksinasi sudah harus selesai diberikan pada usia 24 atau 32 pekan, tergantung ...

Vaksin MR dan MMR, Pilih yang Mana?

"Anak saya belum vaksin MR dok, lebih baik pakai MR atau MMR ya?" Tanya seorang ibu. Ia membaca banyak pemberitaan tentang wabah Campak belakangan, dan agak kuatir karena anaknya yang berusia 9 bulan belum mendapat vaksin Campak. Di Indonesia sendiri ada 3 vaksin Campak yang tersedia :  Vaksin Campak Rubela (MR), Vaksin MMR, dan  Vaksin MMRV Vaksin MR (dok pribadi) Vaksin MR adalah vaksin yang diberikan secara gratis di posyandu/puskesmas, menggantikan vaksin Campak sejak tahun 2017 lalu . Vaksin ini diberikan mulai usia 9 bulan, kemudian diulangi pemberiannya pada usia 18 bulan dan satu kali lagi di antara usia 5-7 tahun. Sedangkan vaksin MMR dan MMRV bisa diberikan mulai dari usia 12 bulan. Sehingga akan lebih baik untuk memberikan vaksin MR terlebih dahulu guna memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dari Campak dan Rubela. Bisakah Vaksin MR dan MMR Digunakan Bergantian? Pemberian vaksin MMR mengikuti vaksin MR diperbolehkan. Misalnya usia 9 bulan bayi diberi...

Sepenggal Cerita dari Hari Asma

Sependek pengalaman saya, Asma pada anak merupakan salah satu penyakit yang paling terlantar penanganannya di kota-kota kecil. Terlantar di sini maksudnya bukan berarti tidak ditangani atau dibiarkan tanpa pengobatan, namun penanganan Asma seolah jalan di tempat, padahal obat-obatan untuk mengontrol Asma sudah banyak tersedia di pasaran. Batuk Lama Bukan Hanya TB Saat seorang anak mengalami batuk lama (lebih dari 14 hari), hal yang mungkin terlintas di benak kebanyakan orang adalah Tuberkulosis atau TB. Dan hal ini memang ada benarnya, mengingat Indonesia merupakan negara kedua terbesar beban TB-nya di seluruh dunia . Seorang anak sedang mengikuti kegiatan Posyandu Akan tetapi batuk lama bukan hanya TB. Ada berbagai penyebab lain yang harus dipikirkan, salah satunya Asma. Mengapa demikian? Karena penanganan TB berbeda sekali dengan Asma. Sehingga anak dengan batuk lama yang diberikan obat TB tentu tidak akan mengalami perbaikan pada batuknya. Hari Asma Sedunia Setiap tanggal 2 Mei duni...