"Dok vaksin Difteri itu yang mana?" Tanya seorang ibu suatu kali.
Ia merasa cemas dengan kabar adanya wabah Difteri di Garut, dan menanyakan apakah anaknya sudah pernah diberikan vaksin Difteri itu?
Pertanyaan ini saya rasa penting untuk diberi penjelasan. Karena di lapangan memang masih banyak orang tua yang bingung membedakan antara vaksin DPT, DTP, DTwP, DTaP, TdaP, Td, maupun DT.
Pertama, vaksin Difteri memang tidak diberikan dalam bentuk tunggal, selalu dalam wujud vaksin kombinasi, baik itu:
- Vaksin Bivalen: Vaksin DT dan Td (Bio Farma),
- Vaksin Trivalen: Boostrix (TdaP, buatan GSK),
- Vaksin Tetravalen (atau Quadrivalen): Tetraxim (DTaP + IPV, buatan Sanofi),
- Vaksin Pentavalen: Pentaxim dan Infanrix IPV - HiB (DTaP + IPV + HiB, masing-masing buatan Sanofi dan GSK), atau Pentabio (DTwP + Hep B + HiB, buatan Bio Farma), serta
- Vaksin Heksavalen: Hexaxim atau Infanrix Hexa (DTaP + IPV + Hep B + HiB, masing-masing buatan Sanofi dan GSK).
Perbedaan Huruf D Kapital dan Non Kapital
Kedua, kalau Anda cermati, ada huruf "d" yang ditulis kapital (D) dan ada yang kecil (d). Tujuannya untuk membedakan apakah vaksin ini untuk diberikan kepada anak di bawah 7 tahun, atau usia 7 tahun ke atas (termasuk remaja bahkan dewasa).
Vaksin DTP, DT, DTaP, DTwP merupakan vaksin yang ditujukan untuk anak berusia 7 tahun ke bawah. Bedanya, kandungan komponen Difteri dalam vaksin-vaksin tadi biasanya 3–5 kali lebih besar.
Sedangkan vaksin Td atau TdaP merupakan vaksin Difteri yang ditujukan untuk anak berusia di atas 7 tahun, termasuk remaja dan dewasa.
Bagaimana Jika Pemberiannya Tertukar?
Pemberian vaksin-vaksin ini tidak boleh tertukar, oleh karenanya penting bagi vaksinator untuk melakukan konfirmasi ulang sebelum memberikan vaksinasi pada seseorang.
Karena pemberian vaksin Td atau TdaP kepada anak berusia di bawah 7 tahun akan dianggap sebagai dosis yang tidak sah, dan perlu diulangi pemberiannya dengan vaksin yang benar. Apabila tidak diulangi, maka tentu saja imun yang terbentuk tidak akan sebaik anak yang mendapatkan dosis dengan benar.
Dengan kata lain, kesalahan pemberian vaksin akan menyebabkan anak rentan terhadap Difteri, meskipun sudah divaksin (karena jenis vaksin yang diberikan salah).
Pemberian vaksin Difteri dengan kapital besar pada anak di atas 7 tahun maupun dewasa meskipun tidak membahayakan, namun biasanya akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih berat.
Kesimpulannya, vaksin DT diberikan untuk anak usia 5–7 tahun, sedangkan vaksin Td diberikan pada usia 7 tahun ke atas.

Komentar
Posting Komentar