Langsung ke konten utama

Salah Paham Buku KIA (Bagian 2)

"Saya disuruh menemui dokter anak, katanya anak saya beratnya kurang." Kata seorang ibu suatu kali saat saya menanyakan apa keluhan si anak.

"Buku KIA-nya dibawa kan? Bisa saya pinjam?" Tanya saya.

Si ibu menyerahkan bukunya dengan tatapan cemas. Ia kuatir ada apa-apa dengan anaknya.

Memahami Hasil Pengukuran Berat dan Panjang/Tinggi Badan

Berat dan panjang/tinggi badan anak merupakan dua hal penting yang tak hanya jadi perhatian tenakes, tapi juga orang tua/pengasuh. Keduanya merupakan satu indikator kesejahteraan si anak.

Berat dan/atau panjang badan yang kurang akan selalu ditanggapi dengan cemas oleh sebagian besar orang tua/pengasuh. Sehingga memunculkan situasi seperti pada ilustrasi di atas: Apakah anaknya normal-normal aja?

Hal yang kadang disalahpahami oleh orang tua/pengasuh dan tak jarang oleh tenakes adalah, hasil pengukuran berat dan panjang badan tadi seharusnya juga diplot dan diinterpretasikan, bukan sekadar diukur saja. Karena tanpa diplot dan diinterpretasikan dengan benar, hasil pengukuran bisa jadi akan menyesatkan.

Memilih Kurva/Grafik yang Sesuai

Orang tua/pengasuh sebetulnya dibekali oleh satu perangkat yang canggih bernama buku KIA. Di dalam buku itu tersedia berbagai kurva/grafik untuk memantau pertumbuhan anak.

Misalnya saja ada Kartu Menuju Sehat (KMS). Kartu ini berguna untuk melihat bagaimana pertumbuhan berat anak dibandingkan dengan anak lain seusianya.

Kartu Menuju Sehat (dok pribadi)


Yang kadang disalahpahami adalah, KMS ini sebetulnya digunakan untuk bayi-bayi yang terlahir cukup bulan (usia kehamilan 37 minggu atau lebih). Untuk bayi yang terlahir prematur, berat badannya tidak boleh diplot langsung begitu saja ke dalam KMS, namun harus terlebih dahulu menghitung usia koreksinya.

Idealnya bayi prematur menggunakan kurva Fenton untuk memantau pertumbuhannya.


Salah Memilih Kurva/Grafik Artinya Salah Menginterpretasi

Apabila bayi yang terlahir prematur, misalnya usia kehamilan bayi A adalah 32 minggu dengan berat lahir 1500 gram dimasukkan ke dalam KMS, tentu bayi A akan berada di luar dari rentang berat badan yang normal. Katakanlah pada usia kronologis 1 bulan si bayi mengalami kenaikan 1000 gram, tetap saja di KMS bayi A akan terplot sebagai bayi gagal tumbuh (dulu disebut BGM/Bawah Garis Merah).

Yang harusnya dikerjakan adalah melakukan plot hasil pengukuran bayi terlebih dulu ke dalam kurva Fenton kemudian mulai dipindah ke KMS setelah memasuki usia 40 minggu pada kurva Fenton.

Menggunakan kurva Fenton ini, maka kenaikan berat badan bayi A sebanyak 1000 gram dalam 4 pekan merupakan satu hal yang baik dan si bayi masih berada dalam rentang berat badan yang normal.

dr. Krisna Adhi, Sp. A
Ketua Bidang Litbang & IT Perdalin Kotapraja.
Co Founder di Klinik Vaksinasi Ar Rohmah,
Dokter Anak di RS Mitra Keluarga Slawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksin MR dan MMR, Pilih yang Mana?

"Anak saya belum vaksin MR dok, lebih baik pakai MR atau MMR ya?" Tanya seorang ibu. Ia membaca banyak pemberitaan tentang wabah Campak belakangan, dan agak kuatir karena anaknya yang berusia 9 bulan belum mendapat vaksin Campak. Di Indonesia sendiri ada 3 vaksin Campak yang tersedia :  Vaksin Campak Rubela (MR), Vaksin MMR, dan  Vaksin MMRV Vaksin MR (dok pribadi) Vaksin MR adalah vaksin yang diberikan secara gratis di posyandu/puskesmas, menggantikan vaksin Campak sejak tahun 2017 lalu . Vaksin ini diberikan mulai usia 9 bulan, kemudian diulangi pemberiannya pada usia 18 bulan dan satu kali lagi di antara usia 5-7 tahun. Sedangkan vaksin MMR dan MMRV bisa diberikan mulai dari usia 12 bulan. Sehingga akan lebih baik untuk memberikan vaksin MR terlebih dahulu guna memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dari Campak dan Rubela. Bisakah Vaksin MR dan MMR Digunakan Bergantian? Pemberian vaksin MMR mengikuti vaksin MR diperbolehkan. Misalnya usia 9 bulan bayi diberi...

Vaksin Hepatitis A: Waspada Wabah Penyakit Kuning

 "Vaksin Hepatitis bukannya sudah diberikan dari bayi ya dok?" Tanya seorang ibu suatu kali saat saya menawarkan memberikan vaksin Hepatitis A kepada anaknya. "Betul bu. Itu vaksin Hepatitis B, kalau yang saya tawarkan ini vaksin Hepatitis A." Jawab saya. Apa itu Hepatitis A? Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis A . Penyakit ini menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak erat dan perantaraan air dan makanan yang terkontaminasi oleh virus Hepatitis A. Ilustrasi sklera mata yang menguning pada penderita Hepatitis   A Penyakit Hepatitis A berbeda dengan Hepatitis B, baik dari penyebab, tanda dan gejala, hingga komplikasinya. Vaksin yang digunakan untuk mencegah kedua penyakit ini juga berbeda, baik jenis, dosis maupun manfaat perlindungannya. Seperti Apa Tanda dan Gejala Hepatitis A? Tidak semua orang yang terinfeksi oleh Hepatitis A menunjukkan tanda dan gejala penyakit. Pada anak-anak boleh jadi penyakit...

Vaksin Influenza: Murah dan Banyak Manfaat

"Anak saya sering batuk pilek dok, apakah boleh diberikan vaksin Influenza?" tanya seorang ibu. Jawabannya tentu saja boleh, tapi satu hal yang harus diingat. Batuk pileknya belum tentu sembuh dengan vaksin Influenza. Lho lalu bagaimana yang benar? Apa Sih Influenza Itu? Satu hal yang harus diperjelas kepada orang tua/pengasuh saat akan memberikan vaksinasi adalah menerangkan manfaat yang akan didapat. Jangan sampai orang tua/pengasuh memiliki ekspektasi yang berlebihan sehingga berujung kekecewaan. Vaksin Influenza belakangan mulai populer, sebagai salah satu efek dari munculnya kesadaran untuk melakukan imunisasi di era pandemi. Apalagi harga vaksin ini termasuk murah dan mudah didapatkan di mana saja. Seorang anak sedang diberikan imunisasi Influenza berbeda dengan batuk pilek sehari-hari (sering disebut sebagai Salesma atau Common Cold dalam bahasa Inggris). Tanda dan gejala Influenza lazimnya lebih berat dan memunculkan komplikasi seperti radang telinga tengah, radang ...