Langsung ke konten utama

Saat Suami Menolak Vaksinasi Anak

"Kenapa anaknya belum divaksin bu?" Tanya saya kepada seorang ibu. 
Ia hanya tertunduk di sisi tempat tidur pasien, tempat anaknya terbaring karena radang paru.
"Sakitnya anak ibu itu radang paru, salah satu sebabnya karena belum dapet vaksin sama sekali" Desak saya.
Si ibu menatap saya sesaat lalu menjawab pelan, "soalnya nggak boleh sama bapaknya dok.."

Menghadapi Penolakan Terhadap Vaksin

Untungnya kasus seperti di atas sudah jarang ditemukan saat ini. Kesadaran orang tua/pengasuh untuk melakukan vaksin secara umum sudah cukup baik, namun kadang masih ada saja satu-dua kasus penolakan dari keluarga.

Saya saat mengisi sesi edukasi di sebuah RS (dok pribadi)


Apa yang harus orang tua/pengasuh ketahui, kesehatan anak adalah bagian dari hak dasar anak yang harus dipenuhi, bukan sekadar diberi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan kasih sayang saja.

Dan kalau dalam beberapa kesempatan ada tenakes atau dokter menegur/memarahi orang tua/pengasuh karena melalaikan vaksinasi, sebetulnya hal itu lebih kepada kepedulian kami terhadap hak-hak si anak yang tidak terpenuhi dengan baik.

Dokter Anak Sebagai Beking Vaksinasi

Dalam beberapa kesempatan turun ke lapangan menjumpai masyarakat, saya beberapa kali menjumpai keluhan seputar vaksinasi, baik dari orang tua/pengasuh maupun tenakes, terkait penolakan terhadap vaksinasi oleh ayah atau keluarga lainnya.

Sependek pengalaman saya, masalah penolakan ini kebanyakan disebabkan oleh kesalahpahaman aja. Dan dengan edukasi serta komunikasi yang baik, semua bisa diselesaikan dan pada akhirnya vaksin tetap bisa diberikan.

Sebab apa yang dibutuhkan oleh si ayah sebetulnya hanya satu figur yang ia anggap mau "bertanggung jawab" terhadap pelaksanaan vaksinasi. Inilah yang sering saya sampaikan kepada teman-teman bidan maupun vaksinator: Peran DSA sebagai beking vaksinasi.

Peran Media Sosial dalam Perubahan Perilaku

Derasnya arus informasi yang ada pada saat ini bisa jadi akan membingungkan bagi sebagian orang. Karenanya keberadaan figur yang dipercaya bisa menjadi salah satu kunci dalam melawan narasi-narasi keliru yang dibuat pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Pendekatan melalui dialog langsung yang mengedepankan empati bagi saya pribadi memiliki keberhasilan hampir 100% dalam mengubah pandangan yang keliru tentang vaksinasi.

Penjelasan yang dilakukan juga tidak perlu panjang dan bertele-tele, cukup tanyakan saja poin apa yang menjadi keberatan si ayah, lalu berikan penjelasan berdasarkan fakta-fakta yang ada.

Satu hal penting yang harus diingat, jangan pernah mendebat seseorang apabila kita tidak menguasai ilmunya, karena hanya akan berujung sebagai debat kusir yang nirfaedah. Sama seperti halnya berdebat dengan kalangan antivaksin.
dr. Krisna Adhi, Sp. A
Ketua Bidang Litbang & IT Perdalin Kotapraja.
Co Founder di Klinik Vaksinasi Ar Rohmah,
Dokter Anak di RS Mitra Keluarga Slawi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksin MR dan MMR, Pilih yang Mana?

"Anak saya belum vaksin MR dok, lebih baik pakai MR atau MMR ya?" Tanya seorang ibu. Ia membaca banyak pemberitaan tentang wabah Campak belakangan, dan agak kuatir karena anaknya yang berusia 9 bulan belum mendapat vaksin Campak. Di Indonesia sendiri ada 3 vaksin Campak yang tersedia :  Vaksin Campak Rubela (MR), Vaksin MMR, dan  Vaksin MMRV Vaksin MR (dok pribadi) Vaksin MR adalah vaksin yang diberikan secara gratis di posyandu/puskesmas, menggantikan vaksin Campak sejak tahun 2017 lalu . Vaksin ini diberikan mulai usia 9 bulan, kemudian diulangi pemberiannya pada usia 18 bulan dan satu kali lagi di antara usia 5-7 tahun. Sedangkan vaksin MMR dan MMRV bisa diberikan mulai dari usia 12 bulan. Sehingga akan lebih baik untuk memberikan vaksin MR terlebih dahulu guna memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dari Campak dan Rubela. Bisakah Vaksin MR dan MMR Digunakan Bergantian? Pemberian vaksin MMR mengikuti vaksin MR diperbolehkan. Misalnya usia 9 bulan bayi diberi...

Vaksin Hepatitis A: Waspada Wabah Penyakit Kuning

 "Vaksin Hepatitis bukannya sudah diberikan dari bayi ya dok?" Tanya seorang ibu suatu kali saat saya menawarkan memberikan vaksin Hepatitis A kepada anaknya. "Betul bu. Itu vaksin Hepatitis B, kalau yang saya tawarkan ini vaksin Hepatitis A." Jawab saya. Apa itu Hepatitis A? Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis A . Penyakit ini menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak erat dan perantaraan air dan makanan yang terkontaminasi oleh virus Hepatitis A. Ilustrasi sklera mata yang menguning pada penderita Hepatitis   A Penyakit Hepatitis A berbeda dengan Hepatitis B, baik dari penyebab, tanda dan gejala, hingga komplikasinya. Vaksin yang digunakan untuk mencegah kedua penyakit ini juga berbeda, baik jenis, dosis maupun manfaat perlindungannya. Seperti Apa Tanda dan Gejala Hepatitis A? Tidak semua orang yang terinfeksi oleh Hepatitis A menunjukkan tanda dan gejala penyakit. Pada anak-anak boleh jadi penyakit...

Sepenggal Cerita dari Hari Asma

Sependek pengalaman saya, Asma pada anak merupakan salah satu penyakit yang paling terlantar penanganannya di kota-kota kecil. Terlantar di sini maksudnya bukan berarti tidak ditangani atau dibiarkan tanpa pengobatan, namun penanganan Asma seolah jalan di tempat, padahal obat-obatan untuk mengontrol Asma sudah banyak tersedia di pasaran. Batuk Lama Bukan Hanya TB Saat seorang anak mengalami batuk lama (lebih dari 14 hari), hal yang mungkin terlintas di benak kebanyakan orang adalah Tuberkulosis atau TB. Dan hal ini memang ada benarnya, mengingat Indonesia merupakan negara kedua terbesar beban TB-nya di seluruh dunia . Seorang anak sedang mengikuti kegiatan Posyandu Akan tetapi batuk lama bukan hanya TB. Ada berbagai penyebab lain yang harus dipikirkan, salah satunya Asma. Mengapa demikian? Karena penanganan TB berbeda sekali dengan Asma. Sehingga anak dengan batuk lama yang diberikan obat TB tentu tidak akan mengalami perbaikan pada batuknya. Hari Asma Sedunia Setiap tanggal 2 Mei duni...