Saat sedang berceramah di manapun dan berbicara tentang vaksin Tifoid, satu hal yang selalu terjadi: Orang-orang kaget saat mengetahui bahwa vaksin Tifoid sudah ada sejak tahun 1896 atau sebelum Perang Dunia Pertama dimulai. Dengan kata lain, vaksin Tifoid sudah ada sejak lebih dari 120 tahun lamanya.
Sehingga bila Anda baru mendengar tentang vaksin ini kali pertama di hari ini, berarti Anda kurang update yaa.. sekitar 126 tahun.
Demam Tifoid yang Disepelekan
Harus saya akui, topik Demam Tifoid ini tidak menjual. Saya beberapa kali mengangkat tema Tipes, namun memang peminatnya tidak sebanyak topik lain di bagian anak, misalnya Influenza atau bahkan vaksin Polio yang belakangan naik daun karena ada kejadian luar biasa (KLB) Polio.
Salah satu dugaan saya karena Demam Tifoid alias Tipes ini relatif mudah dikenali. Bahkan oleh orang awam sekalipun. Pengobatannya juga mudah, kadang tidak perlu bertemu dokter sama sekali malah. Cukup datang ke apotek atau toko obat dan bilang minta obat untuk Tipes. Semudah itu.
Imbas dari Pembiaran
Masalahnya pembiaran macam ini pada akhirnya akan berujung pada bencana. Sebagaimana terjadi di Pakistan sejak tahun 2016 lalu, saat kemunculan bakteri Salmonella typhi XDR (Extensive Drug Resistance) mengubah pandangan dunia mengenai Tipes.
Bakteri Salmonela XDR artinya bakteri penyebab Tipes yang kebal terhadap lima kelas antibiotik yang selama ini digunakan untuk mengatasi Tipes. Kemunculan bakteri XDR ini menyebabkan meningkatnya komplikasi dan ongkos perawatan akibat Demam Tifoid. Belum lagi menyebut bahwa keberadaan bakteri XDR artinya ummat manusia hanya kurang satu langkah lagi dari kemunculan bakteri Salmonela Panresisten yang kebal dengan seluruh antibiotik yang manusia pernah temukan.
Kembali Lagi Menuju Era Pre Antibiotik
Apabila bakteri Salmonela Panresisten ini muncul dan menyebar ke berbagai dunia, maka peradaban kita seolah seperti kembali ke awal abad ke-19, di mana antibiotik belum ditemukan dan sekitar 15% penderita Tipes akan meninggal dunia akibat komplikasi.
Kenapa bakteri XDR tadi sampai muncul? Jawabannya adalah karena penggunaan antibiotik yang terus menerus. Mirip dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat kita: Membeli antibiotik tanpa resep untuk mengobati Tipes.
Mencegah Tipes dari Hulu
Salah satu langkah yang bisa diambil adalah mencegah sakit sedari hulunya. Yaitu mencegah seseorang terinfeksi Tipes. Antara lain dengan memperbaiki higiene dan sanitasi lingkungan, pengawasan keamanan makanan, membudayakan cuci tangan sebelum makan, serta melakukan vaksinasi Tifoid.
Hal-hal itulah yang dulu sudah dikerjakan oleh negara-negara maju, yang sekarang ini angka kejadian Tipesnya sudah sangat rendah. Bahkan sekitar 96% dari kasus Tifoid yang terjadi di Jerman belakangan ini adalah kasus yang dibawa oleh orang yang pulang dari daerah endemis Tifoid, seperti negara-negara di Asia Tenggara (termasuk Indonesia) dan Afrika.
Seperti Apa vaksin Tifoid Diberikan?
Vaksin Tifoid diberikan dengan cara disuntikkan ke dalam otot. Vaksin ini diberikan mulai usia 24 bulan dan diulang setiap 3 tahun sekali. Tidak hanya anak-anak, tapi remaja, dewasa, hingga lansia sekalipun bisa diberikan vaksin ini.
Dalam kebanyakan kasus, reaksi simpang pascavaksinasi tidak berat, antara lain pegal dan kemerahan di lokasi suntik yang akan menghilang sendiri tanpa pengobatan dalam 2 hari.



Komentar
Posting Komentar