Langsung ke konten utama

Kenapa Anak Saya Nggak Dikasih Antibiotik?

 “Kok anak saya nggak dikasih antibiotik dok?” Sahut si ibu sambil menatap saya kebingungan. “Memangnya aman ya?” Sambung ibu itu lagi.

Saya menatap pasangan muda tadi seraya tersenyum, lalu menjelaskan, tidak semua demam pada anak harus diberikan antibiotik. Meski demamnya tinggi sampai 40 derajat Celcius.


Saya menulis sebuah catatan kecil di buku KIA, agar si anak dibawa kembali bila dalam dua hari ke depan demamnya belum membaik, dan obat-obatan yang saya berikan hari itu, kebingungan dari raut wajah mereka akhirnya memudar setelah diberikan penjelasan.

Sakit Berulang Setiap Bulan?

Anak merupakan populasi yang istimewa. Pada usia pra sekolah misalnya, mereka bisa mengalami sakit ringan (batuk pilek tanpa sesak napas, demam, diare ringan) hampir setiap bulan. Kondisi ini terkadang membuat sebagian orang tua bertanya-tanya, apakah ada yang salah dengan sistem imun si anak?




Sebagian orang tua lainnya beranggapan bahwa bila anak mengalami demam tinggi atau batuk yang tak kunjung membaik, maka seharusnya antibiotik segera diberikan agar si anak sembuh. Celakanya, anggapan yang salah ini jika dikombinasikan dengan kondisi anak yang berulangkali sakit akan berujung pada penggunaan antibiotik yang tidak bijak.


Dan penggunaan antibiotik yang tidak bijak, akan berakhir dengan terjadinya resistensi terhadap antibiotik, yang tidak saja akan merugikan secara ekonomi, namun juga bisa mengancam nyawa si anak.


Beban Berat Anak Bangsa

Ada beban berat yang disangga anak-anak bangsa ini, yakni di saat penyakit-penyakit masa lalu belum juga hilang (TBC, Pneumonia, Tifoid, Diare, dan lain-lain), kita sudah kedatangan penyakit baru seperti Flu Burung, SARS, dan tentu saja Covid-19 yang berstatus pandemi sejak hampir tiga tahun terakhir.




Celakanya, para ahli juga memprediksi pada tahun 2050 nanti akan ada 10 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia akibat infeksi oleh bakteri super, yaitu bakteri yang resisten antibiotik. Bila kita masih saja sembarangan dalam menggunakan antibiotik.


Ancaman Nyata Resistensi Antibiotik

Bagi sebagian, orang resistensi antibiotik belum dianggap sebagai ancaman serius. Boleh jadi karena masih rendahnya pemeriksaan guna menilai resistensi antibiotik, sehingga kasus-kasus infeksi oleh bakteri super tak terungkap. Ia ada namun tidak terlihat.


Sebagian lain memandang bakteri super merupakan masalah di negara-negara maju saja, padahal faktanya tidak demikian. Sebagai contoh, sejak tahun 2016 merebak bakteri Salmonela typhi yang kebal terhadap semua antibiotik lini pertama dan kedua (Salmonela typhi XDR atau Extensive Drug Resistance) di Pakistan.




Dalam kurun waktu lima tahun (2017-2021), ada 15.224 kasus Tifoid XDR di Pakistan, yang kemudian menyebar ke negara-negara lain seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Denmark, dan Australia.


Tifoid XDR ini menyebabkan angka komplikasi dan kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi Tifoid non-XDR. Belum lagi menghitung biaya pengobatan yang menjadi berlipat ganda. Tifoid berubah dari penyakit yang diremehkan, diterlantarkan, menjadi ditakuti kembali seperti ia dulu pernah menjadi momok di awal abad ke-20. 


Langkah Apa yang Harus Diambil?

Permasalahan utama dalam mengatasi masalah resistensi antibiotik sebagiannya berada tepat di halaman depan: Kesalahan dalam mengenali infeksi mana yang perlu diberikan antibiotik dan mana yang tidak.




Orang tua harus diberi pemahaman yang benar, bahwa tidak semua demam tinggi atau batuk pilek memerlukan antibiotik, bahwa penggunaan antibiotik yang serampangan (membeli sendiri antibiotik atau meminta diresepkan antibiotik kepada dokter) bukan sekadar pemborosan secara ekonomi, namun justru bisa membahayakan nyawa si anak.


Selain itu surveilans terhadap kasus resistensi antibiotik secara konsisten dan berkualitas juga mutlak diperlukan, tidak hanya sebagai modal dokter dalam menangani pasiennya, namun sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan dalam skala lokal, regional, maupun nasional.


Mengatasi Infeksi dari Hulu

Jauh sebelum antibiotik menjadi perlu diresepkan, kita bisa melakukan upaya-upaya pencegahan infeksi. Melalui upaya promotif dan preventif. Misalnya memantau status gizi anak secara teratur, menjaga higiene dan sanitasi lingkungan, atau pemberian imunisasi sesuai rekomendasi IDAI.




Sayangnya meski upaya pencegahan sebetulnya lebih cost effective (baca: murah) daripada upaya pengobatan dan rehabilitatif, namun perhatian yang diberikan untuk sektor ini dirasa masih kurang.


Sebagai contoh, meski vaksin Tifoid sudah dikenal sejak sebelum Perang Dunia Pertama dimulai, namun kini lebih dari 100 tahun berselang, masih sedikit sekali orang tua bahkan tenakes yang tahu akan keberadaannya. Padahal ongkos melakukan vaksin pada satu anak hanya 1/7 dari biaya rawat inap anak karena Demam Tifoid, belum lagi menghitung kerugian karena orang tua yang kehilangan waktu kerja dan hilangnya waktu sekolah si anak.


Hikmah di Balik Pandemi

Berita baiknya, kehadiran pandemi Covid-19 juga memiliki sisi positif, yakni munculnya kesadaran kolektif akan pentingnya pencegahan sakit: Penggunaan masker saat berada di kerumunan, kebiasaan mencuci tangan pakai sabun, dan meningkatnya kesadaran untuk melengkapi vaksin anak, selain dari imunisasi dasar yang digratiskan pemerintah.




Pandemi menjadi semacam katalis dalam proses perubahan perilaku masyarakat. Di era sebelum pandemi, tidak pernah terbayangkan bahwa di pintu masuk mall, stasiun, atau pasar disediakan fasilitas untuk mencuci tangan. 


Dulu orang yang sedang batuk pilek bisa melenggang begitu saja bepergian tanpa menggunakan masker, sedangkan kini orang baik sakit ataupun sehat semua menggunakan masker saat berada di kerumunan. Hal-hal “kecil” seperti inilah rupanya menjadi komponen penting dalam penanganan pandemi, yang kini kita sudah berada di pintu keluarnya.


Maka dari itu, diperlukan peran semua pihak guna mengerem laju resistensi antibiotik. Tidak hanya menjadi tugas tenaga medis dan tenaga kesehatan, namun harus dimulai dari diri kita, dari hal-hal yang kecil, dan dimulai saat ini juga.


dr. Krisna Adhi, Sp. A
Dokter Anak di RS Mitra Keluarga Slawi,

Ketua Bidang Litbang & IT Perdalin Kotapraja.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksin MR dan MMR, Pilih yang Mana?

"Anak saya belum vaksin MR dok, lebih baik pakai MR atau MMR ya?" Tanya seorang ibu. Ia membaca banyak pemberitaan tentang wabah Campak belakangan, dan agak kuatir karena anaknya yang berusia 9 bulan belum mendapat vaksin Campak. Di Indonesia sendiri ada 3 vaksin Campak yang tersedia :  Vaksin Campak Rubela (MR), Vaksin MMR, dan  Vaksin MMRV Vaksin MR (dok pribadi) Vaksin MR adalah vaksin yang diberikan secara gratis di posyandu/puskesmas, menggantikan vaksin Campak sejak tahun 2017 lalu . Vaksin ini diberikan mulai usia 9 bulan, kemudian diulangi pemberiannya pada usia 18 bulan dan satu kali lagi di antara usia 5-7 tahun. Sedangkan vaksin MMR dan MMRV bisa diberikan mulai dari usia 12 bulan. Sehingga akan lebih baik untuk memberikan vaksin MR terlebih dahulu guna memastikan anak mendapatkan perlindungan lebih cepat dari Campak dan Rubela. Bisakah Vaksin MR dan MMR Digunakan Bergantian? Pemberian vaksin MMR mengikuti vaksin MR diperbolehkan. Misalnya usia 9 bulan bayi diberi...

Vaksin Hepatitis A: Waspada Wabah Penyakit Kuning

 "Vaksin Hepatitis bukannya sudah diberikan dari bayi ya dok?" Tanya seorang ibu suatu kali saat saya menawarkan memberikan vaksin Hepatitis A kepada anaknya. "Betul bu. Itu vaksin Hepatitis B, kalau yang saya tawarkan ini vaksin Hepatitis A." Jawab saya. Apa itu Hepatitis A? Hepatitis A adalah penyakit peradangan pada hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis A . Penyakit ini menular dari satu orang ke orang yang lain melalui kontak erat dan perantaraan air dan makanan yang terkontaminasi oleh virus Hepatitis A. Ilustrasi sklera mata yang menguning pada penderita Hepatitis   A Penyakit Hepatitis A berbeda dengan Hepatitis B, baik dari penyebab, tanda dan gejala, hingga komplikasinya. Vaksin yang digunakan untuk mencegah kedua penyakit ini juga berbeda, baik jenis, dosis maupun manfaat perlindungannya. Seperti Apa Tanda dan Gejala Hepatitis A? Tidak semua orang yang terinfeksi oleh Hepatitis A menunjukkan tanda dan gejala penyakit. Pada anak-anak boleh jadi penyakit...

Vaksin Wajib Anak Itu yang Mana?

"Dokter saya mau ngasih vaksin yang wajib-wajib aja buat anak-anak, kalau yang lain nggak dulu." Kata seorang ibu suatu kali. "Memang vaksin wajib itu yang mana bu?" Tanya saya. "Yang ada di Posyandu kan?" Si ibu bertanya balik. Vaksin Wajib: Istilah yang Kurang Tepat Agak rancu kalau menyebut istilah vaksin wajib, karena akan menimbulkan kesan bahwa vaksin lain di luar vaksin wajib merupakan vaksin yang sifatnya tidak wajib, bisa diberikan, bisa juga tidak. Seorang anak sedang diberikan imunisasi Polio Oral Istilah wajib juga menjadi rancu karena akan timbul pertanyaan berikutnya: Siapa yang mewajibkan dan apa konsekuensinya kalau seseorang dengan sengaja tidak memberikan vaksin wajib tadi? Karena itulah penggunaan istilah vaksin wajib sebaiknya diganti dengan yang lebih presisi, yaitu vaksin Program Pengembangan Imunisasi (PPI), yang merujuk kepada vaksin-vaksin yang disubsidi oleh pemerintah. Vaksin Yang Termasuk PPI Vaksin yang termasuk ke dalam vaksin...