Langsung ke konten utama

Jadwal Makan Anak: Memangnya Perlu?

"Dokter anak saya sudah 3 hari nggak mau makan. Maunya cuma susu, itu juga sedikiiit banget" Keluh seorang ibu suatu hari.
Seorang ibu lainnya mengatakan berat badan anaknya sudah 3 bulan terakhir nggak beranjak dari 8 kg.

..................

Dan ada banyak lagi keluhan senada di atas sering dalam praktik sehari-hari. Keluhan susah makan ini biasanya berkorelasi pada dua hal: Berat badan yang mendeg (atau malah turun) dan seringnya si anak menderita sakit.


Apakah selalu anak-anak yang susah makan perlu dilakukan pemeriksaan rontgen? Tunggu dulu. Jangan buru-buru memvonis anak sendiri dengan TB paru atau flek. Siapa tahu masalahnya ternyata sederhana aja?

Praktek Pemberian Makan yang Tidak Tepat

Memang betul TB paru bisa menyebabkan berat badan anak mandeg, bahkan jatuh ke dalam kondisi gizi buruk. Masalahnya untuk sampai ke dalam kesimpulan TB paru diperlukan bukti-bukti yang menunjang.

Karena sebagaimana disebutkan oleh para ahli, sebagian besar masalah berat badan anak disebabkan praktik pemberian makan yang kurang tepat.

Jadi seperti apa idealnya anak makan?

1. Berikan ASI Eksklusif

Kedengarannya sepele, namun pemberian ASI eksklusif di Indonesia sendiri nyatanya masih jauh dari ideal. Hanya 52,5% alias setengah dari bayi usia 0-6 bulan yang diberikan ASI eksklusif


2. Berikan MPASI Tiga Kali Sehari Mulai 6 Bulan

Setelah memasuki usia 6 bulan, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan kalori anak. Maka berikanlah MPASI. Sebagaimana singkatannya: Makanan Pendamping ASI, maka apa yang diberikan haruslah memiliki kandungan yang serupa dengan ASI: Karbohidrat, protein, dan lemak. 

Jangan hanya memberikan karbohidrat saja (misal pisang Kepok), tapi berikan juga sumber protein (misal tahu, ikan, keju) dan lemak (lauknya digoreng dengan minyak) pada anak.


3. Berikan Makanan Padat Setelah Anak Berusia 1 Tahun

Pada usia 12 bulan idealnya anak sudah bisa mengkonsumsi makanan padat. Jangan lagi mengandalkan ASI sebagai sumber utama makanannya. Dengan kata lain, pemberian ASI yang terlalu sering pada usia ini boleh jadi justru menandakan ada masalah dengan makan si anak.

Mengatasi Masalah Makan 

Lalu bagaimana mengatasi masalah anak yang sedang GTM (Gerakan Tutup Mulut)? Salah satu metode yang bisa dikerjakan adalah menggunakan penjadwalan makan.


Pada dasarnya anak memiliki rentang perhatian yang singkat saat makan, antara 15-20 menit saja. Maka dari itu, batasi waktu makan menjadi 30 menit per sesi.

Aturan yang digunakan sederhana kok:

  1. Batasi waktu makan hanya 30 menit,
  2. Berikan makan tiap 2 atau 3 jam sekali, dan
  3. Jangan berikan apapun kepada anak di luar jadwal makannya.

Contoh jadwal makan pada anak (berkas bisa diunduh di sini):

05.00

Susu 90cc

07.00

Makan pagi

09.00

Susu

11.00

Makan siang

13.00

Susu/snack/buah

15.00

Susu/snack/buah

17.00

Makan malam

19.00

Susu

22.00

Susu

03.00

Susu


Mengejar Berat Badan Anak

Dalam kasus mengejar berat badan anak yang kurang, berikan 2-3 kali susu (makanan cair) pada saat si anak tidur (pukul 05.00, 22.00, dan 03.00).

Waktu pemberian makan bisa diubah menyesuaikan situasi dan kondisi di rumah, dan tidak harus semuanya terpenuhi. Terlewat satu atau dua kali sesi makan masih bisa dianggap baik.

Susu yang digunakan boleh dari jenis atau merk apa saja. Yang penting perhatikan: (1) anak mau meminumnya, (2) tidak ada kembung, muntah, atau diare, dan (3) jumlah yang diminum sesuai dengan target.

Konsisten dan Sabar

Lazimnya saya akan meminta orang tua mengerjakan jadwal makan selama 2-4 pekan sebelum kontrol dan penimbangan berat badan berikutnya.
Di sini mutlak diperlukan kesabaran dan konsistensi, tidak hanya dari orang tua atau pengasuh, tapi juga orang-orang yang tinggal satu rumah dengan si anak. Sebab dalam pekan-pekan awal si anak mungkin akan sedikit rewel dengan penjadwalan makanan.

Nggak sedikit loh pasien yang beratnya mandeg kemudian bisa kembali naik hanya dengan menjadwal makannya seperti ini. Bahkan tanpa perlu diberikan susu formula khusus ataupun suplemen penambah nafsu makan.

Semoga bermanfaat.
dr. Krisna Adhi, Sp. A
Dokter Anak di RS Mitra Keluarga Slawi,
Ketua Bidang Litbang & IT Perdalin Kotapraja.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Vaksin Polio: Demi Terwujudnya Eradikasi Polio

Apa Itu Poliomielitis? Definisi: Poliomielitis (Polio) adalah penyakit infeksi sangat menular disebabkan oleh Poliovirus . Penyakit ini utamanya menyerang balita, ditularkan oleh orang ke orang melalui rute fekal-oral. Virusnya akan berkembang biak di usus, kemudian dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan. Tanda dan Gejala: Sekitar 90% dari orang yang terinfeksi tidak bergejala atau mengalami gejala ringan, sehingga penyakit ini tidak dikenali. Pada sebagian orang mungkin muncul gejala demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kaku pada leher, dan nyeri pada tungkai. Seorang anak menderita kelumpuhan akibat Polio Pada sebagian kecil kasus, virus menyebabkan kelumpuhan, biasanya pada kaki dan kelumpuhannya bersifat permanen. Sekitar 5-10% penderita yang mengalami kelumpuhan akan terjadi kelumpuhan pada otot pernapasan yang bisa menyebabkan kematian . Komplikasi: Kecacatan permanen, meninggal dunia, sindrom Pascapolio. Penyakit Polio Tak Dapat Disembuhkan Hingga saat ini...

Vaksin Rotavirus: Melengkapi Perlindungan Anak Terhadap Diare

"Loh memangnya ada vaksin untuk diare ya?" sahut seorang ibu keheranan, "anak saya masih bisa diberikan vaksinnya nggak?" lanjutnya lagi. Bagi kebanyakan orang, diare identik dengan lingkungan yang kotor, jorok, kumuh. Maka saat seorang anak terkena diare padahal sudah tinggal di rumah yang terjaga bersih, muncul rasa heran. Diare Rotavirus tidak hanya menjadi masalah di Indonesia saja, tapi juga di negara-negara maju lainnya. Karena alasan itulah dikembangkan vaksin Rotavirus. Vaksin Rotavirus pertama di dunia dirilis tahun 1998. Seorang anak dengan diare sedang ditangani petugas Waktu Pemberian Vaksin Rotavirus Vaksin Rotavirus diberikan mulai usia 8 pekan (2 bulan) . Dosis vaksin Rotavirus bervariasi di antara merk vaksin. Ada yang membutuhkan dua dosis dan tiga dosis.  Yang menjadi masalah, masa pemberian vaksin ini terbatas. Usia maksimal pemberian dosis pertama adalah 14 pekan, dan vaksinasi sudah harus selesai diberikan pada usia 24 atau 32 pekan, tergantung ...

Vaksin Hepatitis B: Melindungi dari Gagal Hati

Vaksin Hepatitis B adalah vaksin yang pertama kali diberikan kepada anak, yaitu pada hari ia dilahirkan. Kenapa harus secepat itu diberikannya? Karena salah satu cara Hepatitis B ditularkan saat proses persalinan, baik itu persalinan spontan ataupun sesar . Infeksi Hepatitis B yang terjadi pada awal masa kehidupan ini sekitar 70-90% bisa menjadi kronis dan sebagian dari penderita Hepatitis B kronis akan mengalami Sirosis hati hingga berujung ke kanker hati. Waktu Ideal Pemberian Hepatitis B Hepatitis B diberikan sebanyak 5 kali dan idealnya diberikan segera setelah lahir (tentunya setelah pemberian vitamin K), sebelum bayi berusia 24 jam. Vaksin ini diberikan dengan cara disuntikkan di paha bayi, lazimnya tidak ada efek simpang yang terjadi. Ilustrasi bayi baru lahir Nah bagaimana kalau bayi sudah berusia lebih dari 24 jam namun belum diberikan vaksin Hepatitis B? Dalam kasus seperti ini, vaksin masih bisa diberikan namun tentu saja efek proteksinya tidak sebaik bayi yang diberikan ...